Tuesday, February 24, 2026

Dari Ruang Wacana ke Ruang FOMO (Bagian 1)

Sejarah Café dan Pergeseran Maknanya dalam Budaya Ngopi Kontemporer

Sebagai pemilik café di Sukabumi, saya menyaksikan sendiri sebuah gejala sosial yang menarik sekaligus menggelisahkan: café yang dahulu merupakan ruang sosial-budaya kini bertransformasi menjadi ruang konsumsi simbolik—tempat orang hadir bukan untuk kopi, percakapan, atau pemikiran, melainkan untuk citra.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya hidup. Ia adalah pergeseran makna.

Artikel ini mencoba menelusuri sejarah café sebagai institusi sosial, memahami perannya dalam peradaban, lalu membandingkannya dengan praktik “nongkrong tanpa arah” yang kini marak—sebuah gejala yang mencerminkan kehilangan spirit kopi dari berbagai sisi: historis, kultural, bahkan sensorik.


1. Café sebagai Institusi Sosial: Dari Ottoman ke Eropa

Café pertama muncul di dunia Islam abad ke-15, terutama di kota seperti Mekkah dan Istanbul. Tempat ini dikenal sebagai qahveh khaneh, ruang publik tempat orang berdiskusi, bermain catur, membaca, dan bertukar ide.

Ketika kopi masuk ke Eropa pada abad ke-17, café berkembang menjadi pusat intelektual.

Di London, café dijuluki:

“Penny Universities” — karena dengan harga secangkir kopi, seseorang bisa mengakses percakapan intelektual.

Di Paris, café menjadi ruang diskusi filsafat, sastra, dan politik. Tokoh seperti Voltaire dan Rousseau menjadikan café sebagai ruang produksi gagasan.

Perspektif Teori: Jürgen Habermas

Filsuf Jerman Jürgen Habermas menyebut ruang seperti café sebagai bagian dari public sphere — ruang di mana warga berdiskusi secara rasional dan setara tentang isu publik.

➡ Café bukan tempat konsumsi semata.
➡ Café adalah infrastruktur demokrasi.


2. Café dan Modal Budaya: Pierre Bourdieu

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu memperkenalkan konsep cultural capital (modal budaya).

Dalam konteks café klasik:

  • Pengetahuan tentang kopi = modal budaya

  • Etika percakapan = modal sosial

  • Selera = identitas kelas kultural

Minum kopi bukan sekadar aktivitas biologis, tetapi praktik simbolik yang menunjukkan posisi seseorang dalam struktur sosial.


3. Pergeseran: Dari Ruang Diskursus ke Ruang Konsumsi Simbolik

Di era kapitalisme lanjut dan media sosial, café mengalami transformasi.

Perspektif Jean Baudrillard: Simulacra & Hyperreality

Filsuf Jean Baudrillard menjelaskan bagaimana masyarakat modern hidup dalam simulasi—di mana simbol menggantikan realitas.

Dalam konteks café:

  • Foto kopi lebih penting daripada rasa kopi

  • Interior lebih penting daripada percakapan

  • Kehadiran lebih penting daripada pengalaman

➡ Café menjadi simulacrum: ruang yang meniru makna tanpa memiliki makna itu sendiri.


4. Budaya FOMO dan Ekonomi Perhatian

Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) mempercepat pergeseran ini.

Café kini sering menjadi:

  • latar foto

  • bukti eksistensi sosial

  • alat produksi konten

Bukan lagi ruang pertemuan gagasan.

Perspektif Ekonomi Perhatian

Dalam ekonomi digital, perhatian adalah komoditas. Café menjadi panggung untuk memproduksi perhatian, bukan untuk membangun relasi.


5. Kehilangan Spirit Kopi: Tiga Lapisan yang Terkikis

1. Kehilangan Spirit Sensorik

Banyak pengunjung tidak memahami:

  • asal kopi

  • proses roasting

  • profil rasa

  • metode seduh

Kopi direduksi menjadi properti visual.

2. Kehilangan Spirit Historis

Tanpa memahami sejarah kopi:

  • dari Ethiopia

  • perdagangan Arab

  • kolonialisme

  • hingga specialty coffee

ngopi menjadi gaya tanpa akar.

3. Kehilangan Spirit Sosial

Café berubah dari:
➡ ruang dialog
menjadi
➡ ruang isolasi kolektif (orang duduk bersama, tapi tenggelam di layar masing-masing)


6. Konteks Lokal: Sukabumi dan Fenomena Nongkrong Tanpa Arah

Di Sukabumi, gejala ini terlihat jelas:

  • Nongkrong berjam-jam tanpa percakapan bermakna

  • Fokus pada dokumentasi, bukan pengalaman

  • Mengikuti tren café tanpa memahami kopi

Fenomena ini bukan sekadar “norak”—ia adalah bentuk keterputusan kultural: adopsi gaya global tanpa fondasi pengetahuan.


7. Apakah Nongkrong Tidak Produktif?

Pertanyaan penting: apakah nongkrong itu salah?

Tidak.

Dalam antropologi, leisure adalah bagian penting dari kehidupan sosial. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika ruang sosial kehilangan fungsi kulturalnya.

Nongkrong yang sehat:

  • membangun relasi

  • bertukar ide

  • menciptakan komunitas

  • memperluas perspektif

Nongkrong kosong:

  • konsumsi pasif

  • isolasi digital

  • performativitas sosial


8. Mengembalikan Café sebagai Ruang Kebudayaan

Sebagai pemilik café, pertanyaannya bukan “bagaimana menarik pelanggan”, tetapi:

Bagaimana mengembalikan makna ruang?

Beberapa pendekatan:

  • kurasi musik dan literatur

  • edukasi kopi yang tidak menggurui

  • desain ruang yang mendorong percakapan

  • menolak estetika yang terlalu performatif

Café bisa kembali menjadi:
➡ ruang belajar
➡ ruang dialog
➡ ruang kesadaran rasa


9. Kesimpulan: Antara Hype dan Makna

Café lahir sebagai ruang sosial-budaya yang membentuk peradaban.
Hari ini, ia terancam menjadi ruang konsumsi simbolik yang dangkal.

Namun, masa depan café tidak ditentukan oleh tren—melainkan oleh pilihan pemilik ruang dan komunitas yang menghidupkannya.

Café bukan sekadar tempat minum kopi.
Ia adalah cermin cara masyarakat berpikir, berinteraksi, dan memberi makna pada waktu.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising, café yang paling jujur adalah yang tidak berusaha menjadi viral.

Monday, February 23, 2026

Japan Pressing: Dari Lapak Loak ke Rak Kolektor — Catatan Seorang Anak Indonesia yang Tumbuh Bersama Vinyl



Saya mengenal piringan hitam bukan dari butik audio mewah, melainkan dari warisan Bokap, Kakek, Paman, Kakak, beralih ke tumpukan debu di pasar loak, peti bekas, dan radio tua yang lebih sering ngadat daripada bersuara. Di Indonesia, vinyl bukan sekadar media musik; ia pernah, dan kembali menjadi simbol status, bangkit sebagai artefak budaya yang diperebutkan.

Di tengah perjalanan itu, ada satu istilah yang selalu terdengar seperti mantra di telinga kolektor: Japan pressing.


Fenomena Keindonesiaan: Dari “Piringan Jadul” ke Barang Mahar

Di negeri ini, nasib vinyl selalu mengikuti gelombang zaman:

  • Era 70–80an: simbol kemapanan; hanya rumah tertentu yang punya turntable.

  • Era kaset & CD: vinyl dianggap usang; banyak yang dijual kiloan.

  • Era digital & nostalgia: generasi baru memburu yang dulu dibuang.

Saya masih ingat cerita teman: ayahnya menjual koleksi vinyl ke tukang loak demi membeli VCD player. Dua dekade kemudian, anaknya membeli ulang album yang sama dengan harga ratusan kali lipat.

Dan di antara tumpukan itu, rilisan Jepang selalu muncul dengan aura berbeda—lebih terawat, lebih “niat,” seolah tidak pernah benar-benar menjadi barang buangan.


Apa Itu Japan Pressing?

Japan pressing merujuk pada piringan hitam yang diproduksi di Jepang, baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Label seperti Toshiba-EMI, Nippon Columbia, dan Victor Company of Japan dikenal dengan standar produksi yang sangat tinggi.

Namun bagi saya, Japan pressing bukan sekadar lokasi produksi. Ia adalah filosofi: menghormati musik melalui presisi.


Mengapa Japan Pressing Terasa “Berbeda”?

1. Suara yang Bersih Seperti Pagi Setelah Hujan

Banyak kolektor menggambarkannya sebagai:

  • noise rendah

  • detail instrumen tajam

  • separasi kanal jelas

Di ruang dengar sederhana sekalipun, Japan pressing terasa seperti membuka jendela baru pada rekaman lama.

2. Material Vinyl yang Lebih Halus

PVC berkualitas tinggi menghasilkan permukaan lebih mulus. Bagi kolektor Indonesia yang sering menemukan vinyl penuh jamur tropis, ini terasa seperti mukjizat industri.

3. Mastering yang Lebih “Terang”

Karakter suaranya sering:

  • lebih bright

  • detail frekuensi tinggi menonjol

  • terasa bersih dan modern

Sebagian orang Indonesia yang terbiasa dengan suara “hangat” radio analog mungkin menganggapnya terlalu klinis. Tapi di situlah letak pesonanya: seperti mendengar ulang sejarah dengan kaca pembesar.


Obi Strip: Secarik Kertas yang Mengubah Harga Sebuah Album

Jika ada satu hal yang membuat kolektor Indonesia mendadak religius, itu adalah obi strip — pita kertas vertikal berisi teks Jepang.

Fungsinya sederhana:

  • harga

  • katalog

  • promosi

  • informasi rilis

Namun di pasar kolektor:

tanpa obi = menarik
dengan obi = sakral

Saya pernah melihat dua kopi album yang sama; satu tanpa obi, satu dengan obi. Perbedaannya bukan pada suara, melainkan pada rasa hormat terhadap benda.


Album Barat yang Diburu dalam Versi Japan Pressing

Beberapa rilisan yang sering muncul di daftar incaran kolektor Indonesia:

  • Abbey RoadThe Beatles

  • Kind of BlueMiles Davis

  • AjaSteely Dan

Menariknya, di Indonesia album-album ini sering ditemukan dalam kondisi lebih baik dibanding pressing lokal yang telah melewati kelembapan tropis dan jarum seadanya.


Apakah Japan Pressing Selalu Lebih Baik?

Tidak juga. Selera dan sistem audio sangat menentukan.

Kelebihan

  • noise rendah

  • detail tinggi

  • kemasan artistik

Kekurangan (bagi sebagian orang)

  • bisa terdengar terlalu bright

  • kurang hangat dibanding pressing awal UK/US

Bagi saya, perbandingan ini seperti memilih antara kopi tubruk dan pour-over: bukan soal mana yang benar, melainkan pengalaman yang diinginkan.


Mengapa Kolektor Indonesia Terpikat?

Japan pressing mencerminkan nilai yang jarang kita temukan dalam budaya konsumsi cepat:

  • presisi

  • penghormatan terhadap karya

  • pengalaman mendengar yang utuh

Di Indonesia, tempat banyak artefak budaya hilang karena cuaca, ekonomi, dan perubahan teknologi, Japan pressing terasa seperti kapsul waktu yang selamat dari amnesia kolektif.


Penutup: Vinyl, Ingatan, dan Cara Kita Menghargai Karya

Sebagai kolektor yang tumbuh bersama piringan hitam, saya melihat Japan pressing bukan sekadar rilisan impor. Ia adalah pengingat bahwa musik bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk dirawat.

Di negeri yang sering tergesa mengganti yang lama dengan yang baru, piringan hitam Jepang mengajarkan satu hal sederhana:

kualitas adalah bentuk penghormatan terhadap waktu.


Thursday, November 13, 2025

Ketika Terlalu Banyak Hobi Jadi “Penyakit”: Menemukan Jalan Tengah antara Ide, Energi, dan Produktivitas


Ada jenis penderitaan yang aneh, tapi nyata — bukan karena kekurangan gairah hidup, melainkan karena terlalu banyaknya.
Orang dengan segudang hobi tahu rasanya: setiap hari muncul ide baru, keinginan mencoba hal baru, dan dorongan menciptakan sesuatu yang lain lagi. Awalnya menyenangkan, sampai akhirnya kamu tersesat dalam overdrive kreativitas — sibuk, tapi tak satupun benar-benar tuntas.



1. Antara Ide dan Eksekusi: Belajar Menekan Tombol “Mulai”

Kebanyakan hobi sering membuat otak terus berada dalam mode generate idea. Kamu merakit, menggambar, ngulik musik, ngoprek kamera, mendengarkan vinyl, tapi jarang berhenti untuk benar-benar mengeksekusi satu hal hingga matang.
Solusinya bukan mengurangi hobi, tapi membangun sistem seleksi.
Tulis semua ide dan proyek dalam satu buku atau folder digital, lalu pilih satu proyek utama per minggu. Anggap sisanya bukan ide yang gagal, tapi “arsip panas” yang menunggu giliran.

Contoh: jika kamu suka musik, vintage gear, dan fotografi, jangan paksa semuanya jalan bareng. Fokuskan satu minggu untuk membuat dokumenter kecil tentang satu koleksi vinyl — dengan kamera analogmu. Kamu tetap menyentuh semua hobi, tapi dalam satu bentuk konkret.


2. Energi Libido yang Tertahan = Bahan Bakar Kreativitas yang Belum Disalurkan

Ini topik yang sering dihindari, tapi penting. Energi vital manusia, termasuk libido, punya kaitan erat dengan dorongan mencipta. Saat tidak tersalurkan lewat aktivitas fisik atau emosional, energi itu mencari jalan lain — biasanya muncul sebagai ledakan ide yang tak berhenti.
Gunakan energi itu untuk kerja tangan: memperbaiki peralatan, membangun studio kecil, atau mengutak-atik sesuatu. Sentuhan langsung pada material nyata membuat energi mental berubah jadi hasil konkret.


3. Bangun Sistem “Pembuangan Energi”

Pikiran yang terlalu aktif butuh jalur keluar. Kalau tidak, ia akan terus memutar ide seperti dinamo tanpa beban.
Coba buat rutinitas harian kecil yang menguras energi — bukan untuk hasil, tapi untuk menurunkan tekanan dalam kepala.
Menulis bebas 15 menit setiap pagi, beres-beres studio, atau bahkan membuat playlist baru dari koleksi lama bisa jadi katup lepas tekanan yang efektif.


4. Kurangi Stimulus, Perkuat Fokus

Ironisnya, para penggemar banyak hobi sering justru kelelahan karena kebanyakan inspirasi. Terlalu banyak menonton, mendengar, membaca, akhirnya malah menimbun ide orang lain.
Cobalah jeda informasi: satu atau dua hari tanpa media sosial atau YouTube. Biarkan ide yang muncul murni dari pengalaman dan perasaanmu, bukan dari hasil bandingan.


5. Konversi Hobi Jadi Ekosistem Baru

Hobi yang beragam bukan beban kalau kamu bisa mengonversinya jadi sesuatu yang saling mendukung. Contoh: jika kamu menyukai musik, fotografi, dan budaya, kamu bisa membangun kanal dokumenter tentang komunitas musik independen, memotret alat-alat klasik, lalu menulis narasi tentang sejarahnya.
Dari sekadar hobi, itu bisa berkembang jadi arsip budaya, proyek sosial, bahkan karya dokumenter — yang semuanya tumbuh dari gairah personalmu sendiri.


Memiliki banyak hobi bukan masalah; yang berbahaya adalah kehilangan arah karena tidak ada sistem yang menampungnya. Energi kreatif dan libido mental perlu disalurkan, bukan ditahan. Mulailah dari satu langkah kecil, satu proyek nyata, satu karya tuntas.

Karena pada akhirnya, bukan jumlah hobi yang menentukan nilai seseorang, tapi sejauh mana hobi-hobi itu menemukan bentuk nyatanya di dunia.

Saturday, July 20, 2024

9 Merek Kamera USSR

Industri kamera di Uni Soviet bukan sekadar soal fotografi — ia adalah cerminan ideologi, kemandirian teknologi, dan kebutuhan dokumentasi dalam negara sosialis yang tertutup dari pasar Barat. Sejak 1930-an hingga runtuhnya Uni Soviet pada 1991, kamera diproduksi dalam skala besar untuk tujuan militer, jurnalistik, ilmiah, dan propaganda visual.

Latar belakang: fotografi sebagai alat negara

Pemerintah Soviet memandang fotografi sebagai instrumen penting untuk:

  • dokumentasi industri dan pembangunan

  • propaganda politik dan pencitraan negara

  • penelitian ilmiah dan eksplorasi luar angkasa

  • kebutuhan militer dan intelijen

Karena embargo teknologi dari Barat selama Perang Dingin, Uni Soviet mengembangkan industri optik dan kamera secara mandiri, sering kali dengan pendekatan reverse engineering dari desain Jerman, terutama setelah Perang Dunia II.

Warisan Jerman & rekayasa ulang

Banyak desain kamera Soviet berakar dari teknologi Jerman yang diperoleh setelah perang. Pabrik dan insinyur dari wilayah yang diduduki dipindahkan ke Soviet, termasuk teknologi dari perusahaan seperti Carl Zeiss dan Leica. Hasilnya adalah kamera Soviet yang:

  • tangguh dan sederhana

  • mudah diperbaiki

  • diproduksi massal dengan biaya rendah

  • kadang memiliki toleransi manufaktur yang tidak konsisten

Pusat produksi utama

Beberapa pabrik utama yang membentuk tulang punggung industri kamera Soviet:

  • KMZ (Krasnogorsk Mechanical Plant) – produsen seri Zenit dan kamera militer

  • FED Factory (Kharkiv) – terkenal dengan rangefinder FED

  • LZOS & Arsenal Factory (Kyiv) – produksi kamera Kiev dan optik presisi

Pabrik-pabrik ini mencerminkan fokus Soviet pada ketahanan dan utilitas, bukan kemewahan atau presisi estetika seperti kamera Barat.

Ciri khas kamera Soviet

Kamera USSR dikenal dengan karakter unik:

  • desain utilitarian dan industrial

  • material logam berat dan kokoh

  • mekanisme manual sepenuhnya

  • kualitas optik yang kadang “flawed but soulful” — menghasilkan karakter gambar yang khas

Justru ketidaksempurnaan ini kini menjadi daya tarik bagi kolektor dan fotografer analog.

Jembatan menuju pembahasan merek

Dari latar industri yang sarat ideologi dan rekayasa teknologi inilah lahir merek-merek legendaris seperti Zenit, FED, Zorki, Kiev, dan LOMO — kamera yang bukan hanya alat dokumentasi, tetapi artefak sejarah dari dunia yang pernah terbelah oleh Perang Dingin.

Jika artikel ini adalah perjalanan, maka setiap merek kamera USSR adalah bab yang mengungkap bagaimana negara membentuk cara warganya melihat dan merekam realitas.



  1. Zenit 


    • Negara Bagian: Rusia
    • Produksi: Zenit adalah salah satu merek kamera paling terkenal dari Uni Soviet yang diproduksi oleh Krasnogorsk Mechanical Works (KMZ, atau Красногорский механический завод, Krasnogorskiy Mechanicheskiy Zavod) di Krasnogorsk, Rusia. Krasnogorskiy zavod im. S.A. Zvereva (Rusia: Красногорский завод им. Сверева; Krasnogorsk Works yang dinamai S. A. Zverev) adalah sebuah pabrik Rusia di Krasnogorsk dekat Moskow yang mengkhususkan diri pada teknologi optik. Bagian dari perusahaan negara Rostec. Produksi Zenit dimulai pada tahun 1952 dan terus berlangsung hingga era modern dengan beberapa model baru yang diperkenalkan.
  2. Zorki 


    • Negara Bagian: Rusia
    • Produksi: Zorki juga diproduksi oleh Krasnogorsk Mechanical Works (KMZ) di Rusia. Produksi kamera Zorki dimulai pada tahun 1948 dan berakhir pada tahun 1978. Merek ini tidak lagi berproduksi.
  3. Kiev 


    • Negara Bagian: Ukraina
    • Produksi: Kamera Kiev diproduksi oleh Arsenal Factory di Kiev, Ukraina. Produksi dimulai pada tahun 1947 dan berlangsung hingga tahun 1987. Merek ini tidak lagi berproduksi.
  4. FED 


    • Negara Bagian: Ukraina
    • Produksi: FED diproduksi oleh FED Factory di Kharkov, Ukraina. Produksi dimulai pada tahun 1934 dan berlanjut hingga tahun 1990-an. Merek ini tidak lagi berproduksi.
  5. Smena 


    • Negara Bagian: Rusia
    • Produksi: Smena diproduksi oleh LOMO (Leningrad Optical Mechanical Association) di Saint Petersburg, Rusia. Produksi dimulai pada tahun 1953 dan berlanjut hingga tahun 1991. Merek ini tidak lagi berproduksi.
  6. Lubitel 


    • Negara Bagian: Rusia
    • Produksi: Lubitel juga diproduksi oleh LOMO di Saint Petersburg, Rusia. Produksi dimulai pada tahun 1949 dan berlanjut hingga tahun 1980-an. Merek ini tidak lagi berproduksi.
  7. Leningrad 


    • Negara Bagian: Rusia
    • Produksi: Leningrad diproduksi oleh GOMZ (State Optical Mechanical Plant) di Saint Petersburg (dulu Leningrad), Rusia. Produksi dimulai pada tahun 1956 dan berakhir pada tahun 1968. Merek ini tidak lagi berproduksi.
  8. Start 

    • Negara Bagian: Rusia
    • Produksi: Start diproduksi oleh KMZ di Krasnogorsk, Rusia. Produksi dimulai pada tahun 1958 dan berakhir pada tahun 1964. Merek ini tidak lagi berproduksi.
  9. Moskva 


    • Negara Bagian: Rusia
    • Produksi: Moskva diproduksi oleh KMZ di Krasnogorsk, Rusia. Produksi dimulai pada tahun 1946 dan berakhir pada tahun 1960. Merek ini tidak lagi berproduksi.

Sebagian besar merek kamera dari era Uni Soviet tidak lagi berproduksi setelah runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Beberapa nama seperti Zenit telah mencoba kembali dengan model baru di era modern, tetapi kebanyakan merek lainnya tetap menjadi bagian dari sejarah fotografi.

Tuesday, August 16, 2022

STRESS - Rhoma Irama X Deadwate

 





DEADWATE



From sun up to sun down DEADWATE lives and breaths they’re own unique style of Hip Hop. The three-man team’s steady rise up from the underground over the past 15 yrs is due to their determination to demonstrate and control their own destiny and be heard. As more and more discover the group via their Downloadable MP3’s a genuine respect grooms on a daily basis from fans and fellow artists alike. The appeal is far more then razor sharpness of the hooks or the skillfully crafted high energy beats of dj Tes, it’s the Iconoclastic aura that surrounds DEADWATE that is Compelling listeners attention. They refuse to fall prey to the trappings of the unchanging cookie cutter falseness that becomes more and more predictable in Hip Hop music. Our Reality and Mister Louiee don’t follow trends they stand alone together with high energy lyrics that cover the gamut of real life experiences about growing up and staying true, all delivered with a heavy dose of venomous wit and mesmerizing catchy cadences. Past radio releases have played on Stations in New York, Chicago, Ohio, Hawaii, Syracuse, Kansas City, Miami, Orlando, Mississippi, Atlanta, Oakland, Seattle, Dallas etc. and proves that many of the DEADWATE song’s can hold their own on College and Commercial Radio. With the internet wide open DEADWATE is looking to expand their fan base Rapidly, By promoting their song’s on CD baby, Itunes, Reverbnation and performing live in small venues across the country. When doing full shows we perform with a drummer, keyboard player and back ground singers This is old school with a little new school style hip hop. We make Turn it up Music you gotta play our tracks Loud like Rock N Roll DEADWATE has performed with such acclaimed acts as UnKasa, Seth Marcel, JusOne, Taj Mahal, Fat Joe, Jim Jones, Hell Rell, Dip Set, Gym Class Hero’s The Coup, Naughty by Nature, Dougie Fresh, and Many different Local artist across the US. You can contact them at Deadwate@gmail.com

 

 

RHOMA IRAMA




Raden Haji Oma Irama (born December 11, 1946, in Tasikmalaya, West Java), known as Rhoma Irama, is an Indonesian dangdut musician, singer, songwriter, and actor.
Starting from the late 1960s, he began his musical career as Oma Irama as a part of the pop band Orkes Melayu Purnama, pioneering several dangdut music elements. He then formed his band Soneta Group, achieving multitudes of musical successes with groundbreaking dangdut style which incorporates Western, Malay, and Bollywood influences.
From the late 1970s, he began transforming into more Islamic-oriented style, commanding the religiously pious popular music culture. During the height of his stardom in the 1970s, he was dubbed "Raja Dangdut" ("the King of Dangdut") with his Soneta Group.



Sunday, February 20, 2022

Philip Yampolsky - Music of Indonesia, Vol. 19: Maluku - Halmahera, Buru, Kei

 


Record Label: Smithsonian Folkways Recordings
Artist: Various Artists
Era: 1990s
Format: CD
Release Year: 1999
Style: Spiritual, Sacred Traditions
Features: Studio Recording
Release Title: Music of Indonesia, Vol. 19: Maluku - Halmahera, Buru, Kei
Type: Album
Genre: World Music, Religious & Devotional
Run Time: 4102 sec

Sunday, May 20, 2018

VINYL (2000, 110 MIN)

Oleh: Kassaf




Director: Alan Zweig
Screenplay: Alan Zweig
Music composed by: Drysdale
Executive producer: Bruce McDonald
Producers: Alan Zweig, Greg Klymkiw, Christopher Donaldson


VINYL: The wacky world of Record Collecting


Sebuah film dokumenter karya filmmaker Kanada sekaligus kolektor vinyl @alanzweig, menyelidiki "weird" nya dunia kolektor vinyl, mencoba lebih mendalam untuk masuk sampai ke dasar obsesi mereka. Di film ini Zweig tidak bicara soal musik dengan para kolektor, tapi lebih membahas obsesi dan apa yang mendorong mereka untuk mengoleksi vinyl.

Buat saya film ini lebih merupakan sebuah studi psikososial dalam frame budaya industri musik khususnya format fisik rekaman. Mengapa "memiliki" dan mengoleksi menjadi sangat penting dan mengkaji ulang bagaimana kemelekatan kolektor terhadap "berhala berhala suara" tersebut.

Sebagian besar film ini sebenarnya adalah bentuk "pengakuan" Zweig sendiri yang menguraikan hidupnya berkenaan dengan koleksi vinyl miliknya , dan itulah yang ternyata menafikkan impiannya untuk berkeluarga dan berumah tangga. Dan Zweig mengadakan riset perbandingan, semacam konfirmasi terhadap sesama kolektor untuk perilaku nya tersebut.

Salah satu nara sumber film ini adalah seorang karyawan car wash yang mengklaim memiliki lebih dari satu juta vinyl dan menghafal daftar lagu setiap koleksi yang dimilikinya, lalu pegawai pemerintah yang lebih suka koleksinya berantakan ketimbang disusun rapi karena tidak ingin ada orang-orang datang melihat, dan seorang pria yang memilih untuk membuang koleksi rekamannya daripada menjual atau memberikannya karena tidak ingin orang lain memilikinya. Edan memang. Tapi itulah dunia kolektor vinyl.

Sebagai seorang kolektor, saya melihat film ini menjanjikan sebuah kontemplasi spiritual. Film ini mewakili sebagian kondisi psikologis rata rata para kolektor, sebuah sudut pandang yang berbeda dan belum pernah dibahas dan difilmkan sebelumnya.







VINYL - The Alternate Take


Ini "take" alternatif dari film Vinyl diatas. Awalnya dimaksudkan sebagai tambahan dalam kemasan DVD nya, semacam bonus track gitu lah, terdiri dari footage-footage yang ngga masuk dalam filmnya, tapi bukan "director's cut" juga.

Meskipun berkesan digarap seadanya, Ini bagian dari film yang bisa dibilang berdiri sendiri. Jika kamu menemukan bahwa bagian ini lebih lengkap daripada film aslinya, itu memang tujuan produsernya untuk menunjukkan sedikit lebih banyak tentang beberapa karakter yang menjadi favorit dalam film utamanya.


Friday, March 31, 2017

The history of 78 RPM recordings

a brief guide to aid in cataloging




Sources:
Bill's 78rpm beginner's page
Explanation of side coupling for 78rpm sets
Mudge, S., D.J. Hoek. Describing jazz, blues, and popular 78 RPM sound recordings: suggestions and guidelines. Cataloging & Classification Quarterly, vo. 29, no. 3, 2001, p. 21-48.
Grove Music Online
A history of vinyl
Recording Industry Association of America (RIAA) website
Wikipedia



Any flat disc record, made between about 1898 and the late 1950s and playing at a speed around 78 revolutions per minute is called a "78" by collectors. The materials of which discs were made and with which they were coated were also various; shellac eventually became the commonest material. Generally 78s are made of a brittle material which uses a shellac resin (thus their other name is shellac records). During and after World War II when shellac supplies were extremely limited, some 78 rpm records were pressed in vinyl instead of shellac (wax), particularly the six-minute 12" 78 rpm records produced by V-Disc for distribution to US troops in World War II.

78s come in a variety of sizes, the most common being 10 inch (25 cm) and 12 inch (30 cm) diameter, and these were originally sold in either paper or card covers, generally with a circular cutout allowing the record label to be seen. Since most 78 rpm discs were issued in paper sleeves with no additional accompanying materials, relatively limited information is provided by the items themselves.

Earliest speeds of rotation varied widely, but by 1910 most records were recorded at about 78 to 80 rpm. In 1925, 78.26 rpm was chosen as a standard for motorized phonographs, because it was suitable for most existing records, and was easily achieved using a standard 3600-rpm motor and 46-tooth gear (78.26 = 3600/46). Thus these records became known as 78s (or "seventy-eights"). This term did not come into use until after World War II when a need developed to distinguish the 78 from other newer disc record formats. Earlier they were just called records, or when there was a need to distinguish them from cylinders, disc records.

The durations of 78 RPM recordings is about three to five minutes per side,
depending on the disc size:
12": ca. four to five minutes
10": ca. three minutes

As late as the 1970s, some children's records were released at the 78 rpm speed.

The older 78 format continued to be mass produced alongside the newer formats into the 1950s, but had faded from the scene by 1955.

Recording techniques
Before 1925, all 78s were recorded by means of the artist singing or speaking into a horn, the power of their voice directly vibrating the recording stylus and thus cutting the wax of the master disc. Collectors call these discs "acoustic" recordings.

The acoustical era: 1877–1925
The earliest methods of sound recording are described as "acoustical" and employ only mechanical means for both recording and playback. The sounds to be preserved are directed into a large horn, which at its tapered end is connected to a cutting stylus. In response to the vibrations of air in the horn, the stylus cuts a spiral groove in the thick wax coating of a cylinder or disc, rotated steadily by means of a crank. The cutting process creates variations in the groove analogous to the varying frequency and amplitude of the vibrations; the stylus moves up and down in "hill-and-dale" or "vertical cut" recording and from side to side in "lateral cut" recording.
Acoustical recording never yielded high fidelity, its dynamic range was limited.

[By the 1910s] flat discs were the predominant medium for sound recording.
Edison's Diamond Discs were available 1910 in 7, 10, 12, 14, 16, and 21 inch formats. They were played at around 78 rpm and contained up to 8 minutes of sound. The disc was made of an early plastic known as Amberol, which "gave it little surface noise and superb clarity, [but] was incompatible with any other system. It employed a vertical, rather than lateral cut, groove and could not be played on any other machine."
Recording and playing speeds ranged from 72 to 86 rpm before the standard settled at 78 (though Columbia, for example, issued 80 rpm discs for some time after 1920).

The electrical era: 1925–47
Electrical recording was first used in 1925. After about 1925, 78s were recorded by the artist singing or speaking into a microphone and amplifier which then cut the master record. This allowed a wider range of sound to be recorded. Records recorded by this process are called "electrical" recordings. Collectors can identify these discs by either by listening or by means of small marks in the record surface close to the label.

The first electrical recording was issued in 1925.

By around 1920 lateral cut recording was the norm; a less exacting technique than vertical cut, it produced a level of fidelity adequate to the standard of the equipment the general public could afford to buy.

The physical format of electrical recordings remained the same as that of the many acoustical ones utilizing the lateral cut technique.

The term "electrical recording" is normally used in contradistinction to "acoustical recording" (in the preceding era) and "magnetic tape recording" and "microgroove recording" (in the succeeding era) the term "electrical recording" is not customarily used after the introduction of magnetic tape in 1947. 

In electrical recording the sounds to be preserved are gathered by a transducer (a microphone) and the vibrations converted into an analogously varying electrical signal, which is amplified and applied to another transducer (a stylus), which cuts a spiral groove in a waxed or (later) lacquered disc.

Hill-and-dale [vertical cut] recording.:
A term applied to a sound-recording technique in which, in both recording and playback, the stylus moves up and down in the spiral groove on a cylinder or disc.

Vertical cut recording:
A term applied to a sound-recording technique that utilizes variations in the depth of the spiral groove on a cylinder or disc.

Lateral cut recording.:
A term applied to a sound-recording technique in which, in both recording and playback, the stylus moves from side to side in the spiral groove on a disc.


78 RPM sets

Many 78 RPM sets, particularly electrical sets, were issued in up to three side couplings:
° Manual side
° Slide automatic
° Drop automatic


In a hypothetical set comprising four records, the alignment of the sides would have been:
° Manual: 1/2, 3/4, 5/6, 7/8
° Slide automatic: 1/5, 2/6, 3/7, 4/8
° Drop automatic: 1/8, 2/7, 3/6, 4/5

Tuesday, March 28, 2017

Ageless | Film Dokumenter



Mengenang kembali masa lalu sangat baik untuk para lansia. Nostalgia musikal dapat membantu mereka menghilangkan rasa kesepian dan menumbuhkan rasa keterhubungan dengan lingkungan sekitar. Oma-Opa semakin merasa kesepian dari waktu ke waktu. Anggota keluarga dan teman-teman tidak berada di sisi mereka lagi. Usia membuat mereka merasa semakin terisolir, dan semakin sulit untuk membina hubungan dengan sekitar.
Maka dari itu Oma-Opa harus punya kesempatan untuk bernostalgia dengan mengenang kembali lagu, tempat, dan music favorit dari masa lalunya. Dengan piringan hitam (sengaja kami memilih media vinyl /piringan hitam karena vinyl adalah format rekaman yang paling familiar dengan generasi Opa-Oma) kami mencoba membantu Oma-Opa untuk mengenang kembali orang orang terdekat, dan musik dari masa lalu mereka, untuk sekedar menghilangkan stress dan membuat mereka merasa lebih muda, dan diharapkan dapat meningkatkan kwalitas hidup di sisa umurnya.

Looking back to the past once in a while may actually be good for old people feel less lonely and more connected to others. Old people feel lonely from time to time. Family members and friends may live far away. Age may leave them feeling isolated and make it hard to nurture relationships.They have to comfort themselves by jotting down memories of supportive friends, favorite places, and MUSIC from the past.

With old vinyl records, (the most familiar recording format for the generation born in the 30's and 40's), we are trying to support them to thinking about their favorite people, places and music in their past, to reduce stress and make them feel younger, and bring them back to life, enabling them to feel like themselves again, to converse, socialize and stay present.


Screening info: agelessdocumentary@gmail.com

Screening info: agelessdocumentary@gmail.com

AGELESS
STAF PRODUKSI

Manager Produksi: JIMMY ONG  LINAWATI DERMAWAN Sutradara: KIKI ASSAF Screenwriter: TIFFANY RAMADHANIA Kamera: ERLAND HERLAMBANG  YOPI FIRMANSYAH  KIKI ASSAF  OKI FAISAL GI  ADHE KADAR  FAUZAN NURZAMAN  LUTHFI FARIZ  HEALTY MARYATI Grafis: HERRY SUTRESNA  KIKI ASSAF  Penyunting: KIKI ASSAF Score: RIFFAL GREENZHY KHALWAFI  KIKI ASSAF Penerjemah: RISA Fotografi: ERLAND HERLAMBANG  SEBASTIAN GAMINO  KIKI ASSAF  ADHE KADAR  OKI FAISAL GI  YOPI FIRMANSYAH  IMAN FIRMANSYAH Dukungan Teknis: MASAGUS IDHAM WAHYUDI  IRWAN IRHAS NURLY Pewawancara: LINAWATI DERMAWAN  TATA KARWATA KAIRYADI HALIM  TIFFANY RAMADHANIA Partisipan: Gathering 1SUHARSONO JANTO  WANG CHU CIEN  IRWAN IRHAS NURLY  ADHE KADAR  HEALTY MARYATI Gathering 2ERLAND HERLAMBANG  SIOK BUN  MASAGUS IDHAM WAHYUDI  YOPI FIRMANSYAH  GM YANNIE SRI  YO MEI WEN  SHERLY MAYYANI  SEBASTIAN GAMINO  IRWAN IRHAS NURLY  HERLAMBANG JALUARDI Nara Sumber: DR. Dr. MARULI MANGUNSONG, S.Ps, M. Epid  Sr. AGUSTIN SFS  IMAN FIRMANSYAH S.Kep  Public Relation: R SUBARJO PRODUKSI IDDIGGERS 2016

Screening info: agelessdocumentary@gmail.com


Ageless, Film yang Mempertemukan Opa dan Oma dengan Musik

Sabtu, 10 Maret 2018 16:40
Dok Kiki Assaf. Opa oma di panti wreda Wisma Assisi Sukabumi kembali merasakan masa muda mereka dengan musik dari vinil 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dalam sebuah film dokumenter, yang dibutuhkan tak hanya teknik namun sebuah rasa, kepekaan tentang masalah yang terjadi di lingkungan. Kiki Assaf, mengolah rasa itu dalam sebuah film bertajuk Ageless. Film yang menggambarkan kerinduan opa-oma akan masa mudanya di sebuah panti wreda Wisma Assisi Sukabumi. Dengan footage yang dihasilkan oleh beberapa partisipan, Kiki merangkai film dokumenter yang dapat menggambarkan emosi para orang tua di sana. Melalui sebuah musik yang disuguhkan dalam bentuk vinil, opa oma di sana sekali lagi merasakan masa kejayaan mereka. Saat ditemui dalam diskusi film KamISInema, di Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta, Sabtu (9/3/2018) kemarin, Kiki sebagai sutradara sekaligus produser mengatakan bahwa film ini dibuat atas unsur ketidaksengajaan.

"Awalnya tidak ada niatan bikin film, tapi dari footage yang terkumpul saya berpikir bahwa ini layak untuk dibagikan. Kita harus tahu bahwa kelak kita akan menjadi tua, dan musik adalah media untuk menolong kesejahteraan jiwa," ucapnya. Kebetulan Kiki selama ini mengoleksi piringan hitam zaman dulu. Ia pun memindahkan perangkat pemutar vinil miliknya ke panti wreda tersebut. "Pertama kali ke panti jompo, saya melihat ini panti jompo yang sejahtera. Tapi melihat ekspresinya, ada kemarahan dalam diri mereka. Saat mengobrol tentang musik, mereka terlihat semangat. Maka saya mengkoneksikan dengan cara mengumpulkan vinil yang saya punya dan membuat event di sana."

Ternyata kegiatan itu dapat menggugah empati para pengoleksi vinil dan turut menyumbangkan vinil mereka. Langkah itu pun sangat disambut oma opa di sana. Dalam sebuah scene, terlihat musik dapat membangkitkan semangat mereka. Dalam posisi duduk, ada yang menggerakan telapak kaki atau jemarinya saat mengikuti irama musik. Bagi yang memiliki fisik yang masih kuat, mereka berdansa agogo saat ditingkahi lagu Elvis Presley. Lagu lain yang menjadi kegemaran opa oma di sana adalah keroncong dan mandarin. "Mereka mengalami kekosongan, namun musik dapat membangkitkan mereka. Format fisik buat saya penting, karena modernisasi saat ini membuat banyak remontisme yang hilang. Format fisik patut dipertahankan, meski kemajuan teknologi berkembang pesat namun di film ini menceritakan modernitas tidak selamanya berfungsi," lanjutnya. Tata Karwata, pengamat musik, mengatakan vinil biasanya dimiliki oleh kolektor, mereka mengumpulkan untuk diri mereka sendiri. Sementara orang tua di panti wreda, mereka dipaksa untuk sendiri.

 Dua kutub itulah yang dipertemukan dalam film yang digarap dari tahun 2012 hingga 2016 silam. "Dari film ini dapat dilihat yang namamya bahagia harus ada unsur sedih dan gembiranya. Ada koneksitas dari media vinil yang mereka kenal saat muda. Dengan fisik vinil yang mereka kenal, dan diputarnya lagu kesukaan mereka, maka hormon endorphin akan muncul dan timbulah kegimbaraan," ulasnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Ageless, Film yang Mempertemukan Opa dan Oma dengan Musik, http://jogja.tribunnews.com/2018/03/10/ageless-film-yang-mempertemukan-opa-dan-oma-dengan-musik?page=3.

Penulis: nto 
Editor: Ari Nugroho