
Sejarah Café dan Pergeseran Maknanya dalam Budaya Ngopi Kontemporer
Sebagai pemilik café di Sukabumi, saya menyaksikan sendiri sebuah gejala sosial yang menarik sekaligus menggelisahkan: café yang dahulu merupakan ruang sosial-budaya kini bertransformasi menjadi ruang konsumsi simbolik—tempat orang hadir bukan untuk kopi, percakapan, atau pemikiran, melainkan untuk citra.
Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya hidup. Ia adalah pergeseran makna.
Artikel ini mencoba menelusuri sejarah café sebagai institusi sosial, memahami perannya dalam peradaban, lalu membandingkannya dengan praktik “nongkrong tanpa arah” yang kini marak—sebuah gejala yang mencerminkan kehilangan spirit kopi dari berbagai sisi: historis, kultural, bahkan sensorik.
1. Café sebagai Institusi Sosial: Dari Ottoman ke Eropa
Café pertama muncul di dunia Islam abad ke-15, terutama di kota seperti Mekkah dan Istanbul. Tempat ini dikenal sebagai qahveh khaneh, ruang publik tempat orang berdiskusi, bermain catur, membaca, dan bertukar ide.
Ketika kopi masuk ke Eropa pada abad ke-17, café berkembang menjadi pusat intelektual.
Di London, café dijuluki:
“Penny Universities” — karena dengan harga secangkir kopi, seseorang bisa mengakses percakapan intelektual.
Di Paris, café menjadi ruang diskusi filsafat, sastra, dan politik. Tokoh seperti Voltaire dan Rousseau menjadikan café sebagai ruang produksi gagasan.
Perspektif Teori: Jürgen Habermas
Filsuf Jerman Jürgen Habermas menyebut ruang seperti café sebagai bagian dari public sphere — ruang di mana warga berdiskusi secara rasional dan setara tentang isu publik.
2. Café dan Modal Budaya: Pierre Bourdieu
Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu memperkenalkan konsep cultural capital (modal budaya).
Dalam konteks café klasik:
-
Pengetahuan tentang kopi = modal budaya
-
Etika percakapan = modal sosial
-
Selera = identitas kelas kultural
Minum kopi bukan sekadar aktivitas biologis, tetapi praktik simbolik yang menunjukkan posisi seseorang dalam struktur sosial.
3. Pergeseran: Dari Ruang Diskursus ke Ruang Konsumsi Simbolik
Di era kapitalisme lanjut dan media sosial, café mengalami transformasi.
Perspektif Jean Baudrillard: Simulacra & Hyperreality
Filsuf Jean Baudrillard menjelaskan bagaimana masyarakat modern hidup dalam simulasi—di mana simbol menggantikan realitas.
Dalam konteks café:
-
Foto kopi lebih penting daripada rasa kopi
-
Interior lebih penting daripada percakapan
-
Kehadiran lebih penting daripada pengalaman
➡ Café menjadi simulacrum: ruang yang meniru makna tanpa memiliki makna itu sendiri.
4. Budaya FOMO dan Ekonomi Perhatian
Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) mempercepat pergeseran ini.
Café kini sering menjadi:
-
latar foto
-
bukti eksistensi sosial
-
alat produksi konten
Bukan lagi ruang pertemuan gagasan.
Perspektif Ekonomi Perhatian
Dalam ekonomi digital, perhatian adalah komoditas. Café menjadi panggung untuk memproduksi perhatian, bukan untuk membangun relasi.
5. Kehilangan Spirit Kopi: Tiga Lapisan yang Terkikis
1. Kehilangan Spirit Sensorik
Banyak pengunjung tidak memahami:
-
asal kopi
-
proses roasting
-
profil rasa
-
metode seduh
Kopi direduksi menjadi properti visual.
2. Kehilangan Spirit Historis
Tanpa memahami sejarah kopi:
-
dari Ethiopia
-
perdagangan Arab
-
kolonialisme
-
hingga specialty coffee
ngopi menjadi gaya tanpa akar.
3. Kehilangan Spirit Sosial
6. Konteks Lokal: Sukabumi dan Fenomena Nongkrong Tanpa Arah
Di Sukabumi, gejala ini terlihat jelas:
-
Nongkrong berjam-jam tanpa percakapan bermakna
-
Fokus pada dokumentasi, bukan pengalaman
-
Mengikuti tren café tanpa memahami kopi
Fenomena ini bukan sekadar “norak”—ia adalah bentuk keterputusan kultural: adopsi gaya global tanpa fondasi pengetahuan.
7. Apakah Nongkrong Tidak Produktif?
Pertanyaan penting: apakah nongkrong itu salah?
Tidak.
Dalam antropologi, leisure adalah bagian penting dari kehidupan sosial. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika ruang sosial kehilangan fungsi kulturalnya.
Nongkrong yang sehat:
-
membangun relasi
-
bertukar ide
-
menciptakan komunitas
-
memperluas perspektif
Nongkrong kosong:
-
konsumsi pasif
-
isolasi digital
-
performativitas sosial
8. Mengembalikan Café sebagai Ruang Kebudayaan
Sebagai pemilik café, pertanyaannya bukan “bagaimana menarik pelanggan”, tetapi:
Bagaimana mengembalikan makna ruang?
Beberapa pendekatan:
-
kurasi musik dan literatur
-
edukasi kopi yang tidak menggurui
-
desain ruang yang mendorong percakapan
-
menolak estetika yang terlalu performatif
9. Kesimpulan: Antara Hype dan Makna
Namun, masa depan café tidak ditentukan oleh tren—melainkan oleh pilihan pemilik ruang dan komunitas yang menghidupkannya.
Café bukan sekadar tempat minum kopi.Ia adalah cermin cara masyarakat berpikir, berinteraksi, dan memberi makna pada waktu.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising, café yang paling jujur adalah yang tidak berusaha menjadi viral.

















